Kecup rasa setahun silam
Hari ini seperti beberapa hari yang telah lalu, aku tengah dirundung kalut yang buat hariku semrawut, resah yang membuat hatiku gelisah, jengah yang membuat imanku lemah, hingga gundah yang membuat aku merana.
Entah apa sebabnya, namun berimbas pada aku yang jadi tidur larut, dhuhaku yang jadi berkunut, mata yang selalu menuntut untuk lagi terkatup, tidur.
Siangku menjadi sore, karena tidur semenjak Dhuha, dan terbangun di sepertiga senja, kala yang lain sibuk dengan kajian, hafalan, talkhisan, mempersiapkan diri menghadapi ujian, aku malah terlena dalam balutan selimut.
---------------------------
Aku sadari aku berjiwa aktifis, senang berorganisasi dan ingin selalu dinamis, bergerak dan berubah, selalu ingin berpindah dan sangat tak mau kalah.
Untuk diketahui, Aku kini tengah menjadi sekretaris, di kepanitiaan menyambut tamu amat penting, gubernur provinsi ku Jawa Barat. Aku juga sekretaris di kekeluargaan mahasiswa Jawa Barat, KPMJB, yang mana telah dilantik dengan segenap jiwa dan raga untuk senantiasa menjalankannya mulia melayani segenap masyarakat Jawa Barat di Mesir. Dan dengan jabatan ku sebagai sekretaris itu aku mendapat kesempatan untuk tinggal di aset organisasi yang meringankan ku karena tidak dipungut biaya sebesar bagaimana aku dulu harus membayar.
Sudah barang tentu dengan aku yang menjadi sekretaris panitia, sekretaris organisasi, penghuni aset organisasi aku memiliki banyak tuntutan dan tugas-tugas. Dan nyatanya, aku yang sok organisatoris ini malah lalai, mengabaikan tugas, lari dari tanggungjawab ku.
Bukan tanpa sebab, bukan karena kebetulan, setelah ditimbang sedemikian matang, difikir sedemikan fakir, dan direnungi sedemikian murung, mulai kisadari ada yang telah terlalu lama aku abaikan.
Ada rakaat yang selalu kutinggalkan, ada bangun malam yang selalu ku kesampingkan, ada panggilan yang selalu kuacuhkan, ada amalan baik yang selalu ku bicarakan, ada ghibah yang kebudayakan, ada hati yang selalu kusakiti, ada usia yang kusiasiakan, ada amanah yang kukhianati.
Aku ingin menangis, berteriak hingga histeris, mengaduh hingga gaduh, berlari hingga terjerembab jatuh.
Aku ingin berlabuh, dari keterombangambingan ombak tiada teguh.
Aku ingin berhenti hanyut, dari maksiat yang kian kini kiat akut.
Aku ingin pergi, dari kebisingan nafsu yang semakin nyaring menggerayangi.
Aku ingin sudahi, keterasingan diri karena jauh dari mengaji, jauh dari berbakti, terlalu angkuh untuk hanya menyadari.
Aku ingin hijrah, menuju-Mu yang Maha Megah, yang Maha Indah.
Izinkan aku mengaduh, izinkan aku merengkuh, dan jangan biarkan aku menjauh, dari Rahmat naunganmu yang teduh.