22/05/19

Tidak Ada Viktif Hari Ini, Bagaimana Dengan Besok?

Mei 22, 2019

Ini bukan press release apalagi rangkuman dari hasil kumpulan. Ini hanya catatan pribadi sebagai anggota Viktif yang menghadiri rapat penentuan arah yang tak tentu arah dan berlangsung selama enam setengah jam (16.00-23.40). Maaf jika ada narasi yang dibangun, maaf juga kalau bersudut pandang, karena sekali lagi ini bukan berita yang harus berimbang, melainkan sekadar catatan pribadi di blog pribadi.

Tapi akan berusaha ditulis seberimbang mungkin, sejujur mungkin. Jika nanti ada hal-hal keliru, sangat terbuka untuk dikoreksi. Jjuga ini tidak akan bersifat kronologis. Hanya poin-poin yang dirasa terlalu bergumul di hati sendiri, sulit dilerai sehingga berusaha diurai.

Okay, mari kita mulai.

Ini tentang hasil kumpulan tadi, Rapat bersama PPMI, Wihdah, Ketua-ketua Kekeluargaan dan Protkons KBRI Kairo di Aula Konsuler tentang ‘Mau dibawa ke mana Viktif’.

Apa pokok bahasan sebenarnya?

Kalau sesuai undangan yang beredar, sebetulnya pembahasan rapat ini hanya 2, yaitu ‘arah langkah Viktif ke depannya, dan solusi kepindahan markas Viktif dari konsuler’.

Tapi dari mulai rapat sampai menjelang Magrib pembahasan berputar di seputar testimoni senior-senior saat mereka mengurus izin tinggal dulu, beberapa sampai belasan tahun lalu.
Lalu saat dirasa pembahasan mulai tidak terarah, bahasan dikembalikan lagi ke masalah utama, yaitu pengurusan Visa yang tersendat dan lama sekali.

Masalah apa yang timbul yang lalu berkembang di rapat?

Masalah yang kemudian dibahas adalah tentang penumpukan berkas yang pengurusannya sampai berbulan-bulah dan tidak jelas akan selesai kapan. Selidik demi selidik, ternyata kendala sebenarnya adalah—sebagaimana yang sering disampaikan Viktif di akun FB resmi—adalah karena faktor di kantor imigrasi Buuts Gawazat sendiri yang bermasalah. Mulai dari sistem dan pengampu tugasnya yang diganti, sampai pengurangan jumlah pegawai Gawazat Buuts yang signifikan (dari yang awalnya di tahun lalu masih 20-an orang menjadi hanya 5 orang saja), ditambah aturan-aturan baru pemerintah Mesir terkait Tasdik, Gharamah dan jumlah mahasiswa asing yang tahun demi tahun melonjak drastis menambah parah antrian pengurusan ini menjadi semakin—meminjam istilah senior yang ikut kumpul tadi—carut marut. Jadi secara garis besar, masalah penumpukan ini bukan di Viktif.

Tapi kenapa Viktif masih dinyinyiri, ya? Rupa-rupanya karena masalah biaya yang sedari penetapan pertama kali masih sengketa (maksudnya masih ada beberapa pihak yang tidak merasa menyetujui angka itu karena tertekan oleh keadaan) dan diklaim sebagian orang ‘melebih-lebihkan’ dan memberatkan. Maka diauditlah (audit adalah bedah data, red. peserta rapat) biaya 90 pond itu ke mana saja.


Rincian biaya pengurusan Viktif 2018-2019
Setelah dibedah, ternyata ketahuanlah bahwa honor tim Viktif untuk 4 hari masuk perminggu adalah sebesar 1000 pond. Keterlaluan sekali rasanya, kalai ini masih diperdebatkan. Lalu dipermasalahkanlah rincian biaya lainnya seperti transportasi, konsumsi dan ATK. Tapi setelah dijelaskan ternyata memang tepat sesuai kebutuhan dan tidak ‘dilebih-lebihkan’.

Lalu dipermasalahkan lagi soal keterbukaan Viktif dalam dana dan rekrutmen anggota. Dijelaskanlah bahwa sampai saat ini, ajuan legalisasi status Viktif yang dilayangkan dari akhir tahun 2017 pun belum mendapat persetujuan, lalu bentuk transparansi apa yang diharapkan? Kepada siapa nantinya laporan keterbukaan itu disampaikan, sedangkan status legalnya saja belum selesai. Maka Viktif menolak membuka buku keuangan tahun-tahun sebelumnya karena tidak berkewajiban untuk dapurnya diketahui khalayak banyak.

Sampai situ, Viktif salah karena sudah tidak transparan dalam keuangan. Tapi kan emang ‘belum berkewajiban untuk melapor kepada siapapun, kan?’. Tapi yasudah, forum rapat menyepakati pengurusan selanjutnya harus transparan, tentunya setelah legal standingnya dibuat dan diperjelas.

Lalu masalah keterbukaan rekrutmen, dipermasalahkan juga. Padahal kalau melihat dulunya, ketika awal mula tim ini terbentuk, para pengurusnya adalah relawan dari PPMI, Wihdah dan KPP-Maba. Banyak yang tidak bertahan dan tidak sanggup terus-menerus jadi relawan akhirnya keluar. Nah, menutupi kekurangan personil ini akhirnya tim merekrut lah orang yang mau dan dekat secara personal, supaya kerja ‘relawan’ ini nyaman dijalani. Lalu ketika sekarang Viktif tidak lagi bersifat ‘relawan’, lalu anggotanya mendapat honor 1000 Le perbulan. Maka ramailah isu ketidak-terbukaan Viktif dalam merekrut anggota. Loh?

Mengenai pembubaran diri, siapa yang membubarkan?

Masalah pengunduran diri ini sebetulnya adalah reaksi dari instruksi KBRI untuk memindahkan kantor ke luar konsuler. Ketika itu tim berembuk merumuskan jalan keluar yang akan ditempuh, karena masalahnya tidak sesepele menganggkat semua barang dari konsuler ke tempat lain, melainkan banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan. Diantaranya—dan menjadi konsen utama—adalah masalah keamanan. Jika ini dipindah ke luar, tim merasa akan sangat tidak siap menanggung ancaman penggeledahan oleh aparat atau tindak kriminal maling jika sampai tempat baru itu nanti menjadi pusat aktifitas Viktif yang 2 kali seminggu para mandub untuk setor berkas dan beberapa warga yang datang untuk berkonsultasi. Tentu bukan masalah jika itu masih di konsuler—sebagai mana biasa— , karena baik aparat maupun warga sekitar tahu bahwa itu adalah konsulatnya warga Indonesia. Lalu apa jadinya jika ada satu tempat biasa namun fungsinya seperti fungsi konsulat warga negara Indonesia di pertengahan pemukiman Gami—misalkan? Tentu saja tim Viktif sangat tidak siap untung memikul beban itu.

Belum lagi masalah tambahan biaya jika jika pindah markas. Biaya sewa dan pengadaan fasilitas yang tidak lagi bisa ‘nebeng’ ke fasilitas negara yang penggunaannya diatur di—lagi-lagi saya ingin meminjam istilah yang digunakan kakak senior yang faham hukum perundangan Indonesia yang tadi berkesempatan hadir—undang-undang nomor 27 tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara. Siapa nanti yang akan menanggung biaya-biaya itu? Konsuler dan KBRI sudah sejak awal tidak menyanggupi itu. Lalu siapa? Masisir? Yang padahal kenaikan terakhir kali masih terus diungkit di 3 perkumpulan terakhir Viktif dengan narasi Viktif melebih-lebihkan biaya pengurusan? Memikirkan harus berhadapan dengan Masisir untuk tawar-menawar harga ini membuat tim menggidik ngeri.

Dengan dua hal tersebut saja, tim merasa sangat keberatan dan tidak akan sanggup memikul akibat jika harus ‘keluar dari konsuler’—yang kata sebagian hadirin ini urusan teknis dan sangat sepele—. Maka dengan kesadaran penuh dan pertimbangan matang tim menyatakan—menghindari kata ‘bubar’ yang dipandang terlalu radikal oleh sebagian yang hadir—mengundurkan diri.

Namun dahsyatnya praduga tanpa klarifikasi. Keputusan Viktif untuk mengundurkan diri ini malah dikira adalah skenario Viktif supaya KBRI terdesak dan mengizinkan lagi Viktif kembali di konsuler. Saya tegaskan di sini, Viktif tidak punya skenario apa-apa selain keputusan mengundurkan diri karena 2 alasan utama tersebut di atas. Ini belum jika saya tulis sebab-sebab lain kemunduran diri ini dari sisi psikologis anggota tim saat diteror dan disudutkan berbagai pihak, dituduh yang macam-macam, selalu dicurigai dan lain sebagainya. Rasanya semakin mantap saja keputusan untuk mengundurkan diri ini jika itu semua dikemukakan.

Lalu bagaimana jalannya rapat kemudian?

Kemudian tanggung jawab pengurusan izin tinggal mahasiswa dialihserahkan kepada Stake Holder Masisir—setelah dilepas oleh Viktif dengan kemunduran dirinya—untuk akan dibawa ke mana selanjutnya. Maka muncullah opsi untuk membentuk tim baru yang akan siap memikul tanggungjawab tadi dengan meminta kesediaan salah-satu senior yang dipandang mampu dan punya track record berhasil melobi pihak Gawazat beberapa kali. Senior tersebut bersedia, namun beberapa perwakilan dari kekeluargaan ada yang masih ragu dengan usulan ini, dan membujuk tim Viktif untuk mau kembali menguruskan dengan perbaikan di sistem dan hal-hal teknis lainnya, dan dengan jaminan Stack holder Masisir yang hadir terkait beberapa hal.

Namun sampai akhir, tim masih kukuh dengan keputusan mundur, apalagi ditambah dengan statemen salah seorang hadirin yang mengatakan bahwa Viktif sudah meludah—dengan memutuskan mundur, masa' ludah itu akan dijilat kembali. Padahal kondisinya adalah perwakilan kekeluargaan ‘membujuk’ Viktif untuk mau kembali. Bukan yang lain-lain. Tapi, Yasudah lah.

Hasil akhir kumpulnya jadinya seperti apa?

Sejauh yang saya ingat, akhirnya beberapa senior yang vokal di awal-awal kumpul satu persatu meninggalkan tempat, meniggalkan bahasan panas yang belum kunjung mendapat titik terang selain keputusan akan dialihkan ke MPA, BPA dan PPMI selaku induk organisasi mahasiswa, padahal sebelumnya posisi MPA BPA yang strategis ini dikeluhkan karena beberapa tahun terakhir diisi oleh anak-anak baru, tapi giliran diminta solusi malah diserahkan ke ‘anak-anak baru’ ini.

Beberapa upaya penyelesaian masalah berlanjut dibicarakan, opsi memajukan senior yang ‘berpengalaman’ pun kembali dipertimbangkan. Namun saat ada salah-satu senior memutuskan keluar ruangan sambil menggumulkan kata ‘munafik’ di depan pintu keluar kontan membuat ‘jubir’ Viktif mengultimatum keputusan final bahwa Viktif akan tetap bubar dengan tetap bertanggungjawab menyelesaikan 900 berkas yang sudah terlanjur diuruskan dan mengembalikan 500 berkas baru yang belum tersentuh ke mandub masing-masing. Dan bola panas keputusan kelanjutan pengurusan izin tinggal kolektif ini mengambang di tangan Stake Holder Masisir.

Rapat sudah berakhir. Segala kejadian terekam di siaran langung yang diposting. Siapapun bisa cross check segala apapunnya.

Lagi-lagi ini hanyalah kegeraman yang dirasakan penulis. Terserah mau menyimpulkan apa, penilaian adalah hak siapapun yang bisa menilai, dan sebaik-baiknya penilaian adalah penilaian Dia yang tidak akan pernah salah menilai.


Yang jelas, sudah tidak ada Viktif hari ini, lalu bagaimana dengan esok? 


Cairo, 23 Mei 2019

31/12/18

Menulis Resolusi dan Bagaimana Itu Bisa Terealisasi

Desember 31, 2018

2018 benar-benar akan berakhir tidak lama lagi—jika tulisan ini berhasil rampung dan terbit sebelum tahun 2019 dimulai—dan apa-apa yang pernah terjadi sungguh takan bisa kembali. Bisa diulang, tapi rasanya takan pernah sama lagi. Seperti yang pernah dinasehatkan oleh Bapak tercinta setiap kali kepergok main HP. “A, daripada cuman ketawa-tawa sendiri depan HP gitu mending ngafal Quran, Sayang umur! Hari ini bisa terulang, tapi tak pernah bisa sama lagi. Hari Rabu ada setiap pekan, tapi sepanjangnya takan pernah berisi hal yang sama. Sama-sekali.  Jadi sebisa mungkin, setiap hari harus produktif!” Begitu nasehatnya dengan terjemahan bebas dari bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia agar mudah difahami oleh pembaca. Rasanya kangen nasehat Bapak, andai beliau tahu kalau sekarang anaknya terlalu sering main HP dan tidak terkontrol, sedangkan hafalan Quran gak nambah-nambah. Hiks..
Tadi pagi, setelah membaca kembali resolusi tahun 2018 yang saya buat pada 7 Januari lalu saya menyadari bahwa salah satu resolusi saya tahun ini adalah lancar berbahasa Inggris. Namun sayang di pertengahan September lalu saya baru diberi tahu oleh Aisyah Saidov bahwa PPCS—salah satu komunitas pelatihan bahasa Inggris bergengsi di kalangan Masisir—baru saja menutup pendaftaran peserta barunya. Andai kamu tahu, Syah. Saya sudah berencana ikut PPCS itu dari awal tahun 2018! Hiks.. (Lagi)
Salah satu alasan kenapa Saya menjadikan kemampuan berbahasa Inggris yang baik menjadi salah satu resolusi saya tahun ini adalah karena saya ­mulai menyerah menekuni bahasa Arab yang adalah jurusan kuliah S1 saya di al-Azhar Cairo ini gara-gara 2 tahun berturut-turut Manqulain termotivasi untuk melanjutkan pendidikan master di negrinya Ratu Elizabeth.
Sebetulnya dulu sewaktu di Pondok saya adalah bagian penggerak bahasa, yang mengatur santri untuk tertib menggunakan Mahkota Pondok yang itu adalah dua bahasa asing utama; Arab  dan Inggris. Banyak yang bertanya, mantan Qismu Lugahah seharusnya kan sudah lancar saja menguasai bahasa Arab dan Inggris tersebut dalam 4 keterampilan utama berbahasa. Misalnya mampu membacakan (reading & speaking) surat berisi ceramah duktur yang saya tulis (writing) seusai mendengar (listening) Muhadharah di kelas kemarin. Tapi ya, gitu, dunia tidak berjalan sebagaimana apa yang kamu prasangkakan, Ferguso! Hanya Allah doang yang sesuai prasangkaan hambanya, mah!
Jadi ya, kemampuan berbahasa asing saya masih biasa-biasa saja, masih belum bisa nonton serial Game of Throne tanpa tunduk ke bagian bawah gara-gara melihat subtitle, ataupun menghayati lagu Dien Assalam dengan sekali dengar. Meskipun begitu, saya merasa belum terlambat untuk kembali berniat memperbaiki kemampuan itu, mengingat tahun depan paspor saya sudah harus diperbarui, padahal setahun berikutnya saya selesai S1, yang ini berarti pada saat lulus nanti paspor saya masih akan berlaku hingga 3 tahun berikutnya. Enaknya kemana ya? Turki atau London.
Oke. Sebelum terlalu panjang tulisan ini bercerita yang bukan sesuai judulnya, mari kita akhiri dengan kesimpulan bahwa resolusi sangat penting untuk dipersiapkan sematang-matangnya. Saya gagal merealisasikan poin resolusi itu karena gagal mempersiapkan diri dan segala hal yang terkait. Lalu bagaimana cara menulis resolusi yang baik dan paripurna, supaya bisa dilaksanakan dan tidak hanya wacana?
Pertama, pergilah ke satu tempat di dalam rumahmu—atau dimanapun saat itu kamu berada—usahakan hanya ada kamu seorang, misal di hadiqah, atau masjid samping rumah, atau di ruang perkuliahan yang biasanya kosong. Sesi ini penting buatmu untuk merenung, memikirkan apa saja yang sudah terjadi selama ini. Coba ingat-ingat hal paling menyenangkan apa yang pernah terjadi selama satu tahun ke belakang, bisa dari kehidupan pribadimu, akademisi, kehidupan sosial, atau—terfavorit—kisah asmaramu. Hal ini cukup baik untuk membuatmu bisa tersenyum dan mengapresiasi diri sendiri karena sudah dengan baik mampu melalui itu semua. Jangan lupa ucapkan syukur, Alhamdulillah.
Setelah itu, masih di tempat itu, alihkan fokusmu ke hal-hal buruk yang terjadi, semisal maddah yang masih terbawa dari termin lalu, atau masih terlalu sering bermain HP saat di tempat umu sehingga beberapa kali kemalingan dan semisalnya. Cukup diingat tapi tidak usah terlalu diresapi. Biarkan itu menjadi sisi buruk yang tak perlu lagi disesali. Karena memang sudah berlalu, dan berikutnya cukup dijadikan pelajaran agar tidak kembali terulang.
Berikutnya ambil catatan, bisa berupa kertas atau cukup di note di smartphone-mu. Tulis di sana judul yang bisa memacu semangatmu seperti “AKU DI TAHUN INI”, atau juga hanya tajuk biasa seperti ‘Resolusi 2019’. Setelah itu bagi dirimu dalam 3 kategori besar, Pribadi, keluarga, sosial.
Pribadi adalah hal-hal yang hanya akan berhubungan denganmu, dan ini yang sangat penting untuk diperhatikan dengan baik karena 2 yang sesudahnya hanya akan berkaitan dengan hubunganmu bersama keluarga dan sanak saudara, juga kegiatan-kegiatan amal untuk sesama.
Baik, kita akan fokuskan ke poin terkait dirimu. Bagi lagi kehidupan pribadimu sekurang-kurangnya ke dalam 3 poin utama yang akan lebih kamu fokuskan selama setahun ke depan. Kategorinya bisa ambisi, hobi, pengembangan diri, kemandirian, dan karya.
Tentukan 3 fokus utama apa saja bidang yang ingin kamu dahulukan, seperti ambisi-ambisi masa lalu yang bisa diupayakan di tahun itu (berhaji, ibadah umrah, magang di suatu badan usaha), atau hobi-hobi baru yang bisa menyenangkan dirimu (melakukan petualangan ke suatu daerah, bergabung di komunitas sastra atau komik, mengoleksi novel dari pengarang favoritmu), bisa juga fokus di kegiatan-kegiatan yang bisa mengembangakn dirimu (mengikuti kursus bahasa asing, belajar menyetir, ikut komunitas fotografi), atau mulai membuat suatu karya dari keahlianmu sendiri, semisal desain, video perjalanan, komik, video kajian, cerpen, dan lain-lain.
Setelah itu mulailah menyusun daftar hal-hal yang ingin kamu lakukan di tahun ini, sesuai dengan kategori-kategori tadi. Usahakan hanya menulis hal-hal kecil yang tidak akan menyulitkanmu, dan tulis saja apapun yang spontan terlintas di benakmu. Cukup 3-5 hal-hal kecil untuk setiap kategori. Setelah itu, baca kembali semua daftar yang sudah kamu tulis tadi, perhatikan apa kira-kira hal yang masih akan menyulitkanmu, ganti dengan yang lebih mudah jika sekiranya ingin.
Ingat, jangan tulis hal-hal yang kamu anggap akan sulit terealisasi, karena ini adalah hidupmu, bukan perusahaan dengan target-targetan yang sulit. Selain itu, hal mudah akan membuatmu mudah melakukannya, dan jika sudah terbiasa dengan keberhasilan-keberhasilan meskipun dari hal-hal kecil kamu bisa beralih ke hal-hal yang lebih nantinya, iya, nanti saja, sekarang yang itu tadi dulu.

30/12/18

Untuk 2018 Saat Ia Pergi

Desember 30, 2018
31 Desember menandakan berakhirnya kalender 2018, yang akan disambut oleh tahun berikutnya; 2019. Menjelang akhir tahun, biasanya saya akan merenung, jika sempat tepat di akhir tahun, jika tidak, mungkin menyusul di minggu-minggu awal tahun baru.

Tahun ini banyak hal terjadi. Dari berbagai aspek dalam hidup saya, banyak diantaranya yang cukup berkembang, seperti kemandirian, Alhamdulillah tahun ini saya lebih mandiri secara finansial. karya-karya di waktu senggang, serta belajar berkegiatan positif dengan lebih banyak.

Banyak kebahagiaan yang saya rasakan, capaian-capaian yang lama diimpikan, satu persatu mulai tergapai. Salah-satunya di 10 Maret sampai 6 April 2018 saya menunaikan ibadah Umrah ke tanah suci, sungguh anugrah luar biasa yang jika kembali ke 5 tahun lalu, itu hanya khayalan di siang bolong saat menunggu adzan Dhuhur. Selain itu saya berkesempatan magang selama 3 bulan di agensi perjalanan; PT. Talaza Global Savana sebagai desainer grafis. Pengalaman luar biasa yang membuka mata saya akan peluang para pegiat konten kreatif di masa depan, dan membuat saya semakin bersemangat mengembangkan skill editing yang dulu bermula main-main.

Di bidang akademisi juga saya masih diizinkan untuk tidak tertahan di satu tingkat, Alhamdulillah lulus di ujian meski dengan nilai pas-pasan. Setiap saat saya berusaha berbenah, memperbaiki jadwal rutinitas yang sebelumnya hanya menunjang kegiatan keorganisasian perlahan menyibukkan diri dalam aktifitas keilmuan dengan pindah ke Darosah dari bulan Maret untuk mulai bermulazaman dengan Masyayikh Azhar.

Saya banyak berterimakasih kepada kawan-kawan serumah di Rumah Masa Depan yang selalu membawa atmosfir positif untuk mengembangkan diri. Untuk Abdul Fatah Amrullah asal Bogor yang selalu 'ngajak ngaji' dan mencintai buku, mas Fardan Satrio Wibowo asal Banjarnegara yang semangat menuntut ilmunya membuat saya iri, Albi Tisnadi Ramadhan asal Bogor yang mengajarkan saya arti proses dan prioritas, Ahmad Faisal asal Bandung yang mempercayai saya untuk dititipi banyak hal, yang paling berkesan adalah kisah asmara dan pengalaman dipercayai menjadi 'konsultan'.

Untuk Ahmad Nurai asal Garut, yang adalah teman saya semenjak di Pondok, dengan usia persahabatan yang cukup dekat hingga dikatakan akan bertahan selamanya, Amin. Juga Yahya Wawan yang belakangan melengkapi kekurangan anggota rumah kami, dengan semangat bersih-rapi dan didikan orangtua yang dijaga dengan sekuat tenaga membuatnya layak menjadi sahabat karib, (dan mudah-mudahan mau diajak berjuang satu periode nanti, amin). Sungguh kebersamaan ini akan sementara, namun kesan yang tercipta antar kita akan menyelama.

Dan sebagaimana cara dunia ini di mana pun bekerja, ada masa-masa di mana saya merasakan kehilangan, untuk setiap harapan yang pupus; penyesalan untuk setiap kesalahan yang terulang; hingga kecewa untuk banyak hal di luar dugaan yang malah terjadi. Ingin rasanya menuliskan semua kesialan itu disini, mungkin nanti, atau tidak usah samasekali.

2018 akan tetap pergi. Kita juga akan tetap begini. Yang berbeda adalah usia kita yang semakin berkurang.

Ada harapan baik untuk esok hari, semoga menjadi awal dari pencapaian-pencapaian baru yang lebih baik, peribadi yang tambah baik, keluarga yang semakin rukun, persahabatan yang semakin solid, masa depan yang gemilang semakin kian tak berjarak.

Esok juga semoga menjadi akhir dari pribadi buruk, yang senang ketika orang lain sulit, berburuk sangka untuk setiap hal yang tak difahami, kurang bersabar menghadapi pribumi, lupa bahwa ini rumah mereka, kita hanya tapi yang menumpang.