2018 benar-benar akan berakhir tidak lama lagi—jika
tulisan ini berhasil rampung dan terbit sebelum tahun 2019 dimulai—dan apa-apa
yang pernah terjadi sungguh takan bisa kembali. Bisa diulang, tapi rasanya
takan pernah sama lagi. Seperti yang pernah dinasehatkan oleh Bapak tercinta setiap
kali kepergok main HP. “A, daripada cuman ketawa-tawa sendiri depan HP gitu mending
ngafal Quran, Sayang umur! Hari ini bisa terulang, tapi tak pernah bisa sama
lagi. Hari Rabu ada setiap pekan, tapi sepanjangnya takan pernah berisi hal
yang sama. Sama-sekali. Jadi sebisa
mungkin, setiap hari harus produktif!” Begitu nasehatnya dengan terjemahan
bebas dari bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia agar mudah difahami oleh pembaca.
Rasanya kangen nasehat Bapak, andai beliau tahu kalau sekarang anaknya terlalu
sering main HP dan tidak terkontrol, sedangkan hafalan Quran gak nambah-nambah.
Hiks..
Tadi pagi, setelah membaca kembali resolusi tahun
2018 yang saya buat pada 7 Januari lalu saya menyadari bahwa salah satu
resolusi saya tahun ini adalah lancar berbahasa Inggris. Namun sayang di
pertengahan September lalu saya baru diberi tahu oleh Aisyah Saidov bahwa PPCS—salah
satu komunitas pelatihan bahasa Inggris bergengsi di kalangan Masisir—baru saja
menutup pendaftaran peserta barunya. Andai kamu tahu, Syah. Saya sudah
berencana ikut PPCS itu dari awal tahun 2018! Hiks.. (Lagi)
Salah satu alasan kenapa Saya menjadikan kemampuan
berbahasa Inggris yang baik menjadi salah satu resolusi saya tahun ini adalah
karena saya mulai menyerah menekuni bahasa Arab yang adalah jurusan kuliah S1
saya di al-Azhar Cairo ini gara-gara 2 tahun berturut-turut Manqulain termotivasi untuk melanjutkan pendidikan master di negrinya Ratu Elizabeth.
Sebetulnya dulu sewaktu di Pondok saya adalah
bagian penggerak bahasa, yang mengatur santri untuk tertib menggunakan Mahkota
Pondok yang itu adalah dua bahasa asing utama; Arab dan Inggris. Banyak yang bertanya, mantan Qismu
Lugahah seharusnya kan sudah lancar saja menguasai bahasa Arab dan Inggris
tersebut dalam 4 keterampilan utama berbahasa. Misalnya mampu membacakan (reading
& speaking) surat berisi ceramah duktur yang saya tulis (writing)
seusai mendengar (listening) Muhadharah di kelas kemarin. Tapi ya,
gitu, dunia tidak berjalan sebagaimana apa yang kamu prasangkakan,
Ferguso! Hanya Allah doang yang sesuai prasangkaan hambanya, mah!
Jadi ya, kemampuan berbahasa asing saya masih
biasa-biasa saja, masih belum bisa nonton serial Game of Throne tanpa
tunduk ke bagian bawah gara-gara melihat subtitle, ataupun menghayati lagu
Dien Assalam dengan sekali dengar. Meskipun begitu, saya merasa belum
terlambat untuk kembali berniat memperbaiki kemampuan itu, mengingat tahun
depan paspor saya sudah harus diperbarui, padahal setahun berikutnya saya
selesai S1, yang ini berarti pada saat lulus nanti paspor saya masih akan berlaku
hingga 3 tahun berikutnya. Enaknya kemana ya? Turki atau London.
Oke. Sebelum terlalu panjang tulisan ini bercerita
yang bukan sesuai judulnya, mari kita akhiri dengan kesimpulan bahwa resolusi
sangat penting untuk dipersiapkan sematang-matangnya. Saya gagal merealisasikan
poin resolusi itu karena gagal mempersiapkan diri dan segala hal yang terkait.
Lalu bagaimana cara menulis resolusi yang baik dan paripurna, supaya bisa
dilaksanakan dan tidak hanya wacana?
Pertama, pergilah ke satu tempat di dalam rumahmu—atau
dimanapun saat itu kamu berada—usahakan hanya ada kamu seorang, misal di hadiqah,
atau masjid samping rumah, atau di ruang perkuliahan yang biasanya kosong. Sesi
ini penting buatmu untuk merenung, memikirkan apa saja yang sudah terjadi selama
ini. Coba ingat-ingat hal paling menyenangkan apa yang pernah terjadi selama satu
tahun ke belakang, bisa dari kehidupan pribadimu, akademisi, kehidupan sosial,
atau—terfavorit—kisah asmaramu. Hal ini cukup baik untuk membuatmu bisa
tersenyum dan mengapresiasi diri sendiri karena sudah dengan baik mampu melalui
itu semua. Jangan lupa ucapkan syukur, Alhamdulillah.
Setelah itu, masih di tempat itu, alihkan fokusmu
ke hal-hal buruk yang terjadi, semisal maddah yang masih terbawa dari
termin lalu, atau masih terlalu sering bermain HP saat di tempat umu sehingga
beberapa kali kemalingan dan semisalnya. Cukup diingat tapi tidak usah terlalu
diresapi. Biarkan itu menjadi sisi buruk yang tak perlu lagi disesali. Karena memang
sudah berlalu, dan berikutnya cukup dijadikan pelajaran agar tidak kembali
terulang.
Berikutnya ambil catatan, bisa berupa kertas atau
cukup di note di smartphone-mu. Tulis di sana judul yang bisa
memacu semangatmu seperti “AKU DI TAHUN INI”, atau juga hanya tajuk biasa
seperti ‘Resolusi 2019’. Setelah itu bagi dirimu dalam 3 kategori besar,
Pribadi, keluarga, sosial.
Pribadi adalah hal-hal yang hanya akan berhubungan
denganmu, dan ini yang sangat penting untuk diperhatikan dengan baik karena 2
yang sesudahnya hanya akan berkaitan dengan hubunganmu bersama keluarga dan
sanak saudara, juga kegiatan-kegiatan amal untuk sesama.
Baik, kita akan fokuskan ke poin terkait dirimu. Bagi
lagi kehidupan pribadimu sekurang-kurangnya ke dalam 3 poin utama yang akan lebih
kamu fokuskan selama setahun ke depan. Kategorinya bisa ambisi, hobi,
pengembangan diri, kemandirian, dan karya.
Tentukan 3 fokus utama apa saja bidang yang ingin
kamu dahulukan, seperti ambisi-ambisi masa lalu yang bisa diupayakan di tahun
itu (berhaji, ibadah umrah, magang di suatu badan usaha), atau hobi-hobi baru
yang bisa menyenangkan dirimu (melakukan petualangan ke suatu daerah, bergabung
di komunitas sastra atau komik, mengoleksi novel dari pengarang favoritmu),
bisa juga fokus di kegiatan-kegiatan yang bisa mengembangakn dirimu (mengikuti
kursus bahasa asing, belajar menyetir, ikut komunitas fotografi), atau mulai
membuat suatu karya dari keahlianmu sendiri, semisal desain, video perjalanan,
komik, video kajian, cerpen, dan lain-lain.
Setelah itu mulailah menyusun daftar hal-hal yang
ingin kamu lakukan di tahun ini, sesuai dengan kategori-kategori tadi. Usahakan
hanya menulis hal-hal kecil yang tidak akan menyulitkanmu, dan tulis saja
apapun yang spontan terlintas di benakmu. Cukup 3-5 hal-hal kecil untuk setiap
kategori. Setelah itu, baca kembali semua daftar yang sudah kamu tulis tadi,
perhatikan apa kira-kira hal yang masih akan menyulitkanmu, ganti dengan yang
lebih mudah jika sekiranya ingin.
Ingat, jangan tulis hal-hal yang kamu anggap akan
sulit terealisasi, karena ini adalah hidupmu, bukan perusahaan dengan
target-targetan yang sulit. Selain itu, hal mudah akan membuatmu mudah
melakukannya, dan jika sudah terbiasa dengan keberhasilan-keberhasilan meskipun
dari hal-hal kecil kamu bisa beralih ke hal-hal yang lebih nantinya, iya, nanti
saja, sekarang yang itu tadi dulu.
