30/12/18

Untuk 2018 Saat Ia Pergi

31 Desember menandakan berakhirnya kalender 2018, yang akan disambut oleh tahun berikutnya; 2019. Menjelang akhir tahun, biasanya saya akan merenung, jika sempat tepat di akhir tahun, jika tidak, mungkin menyusul di minggu-minggu awal tahun baru.

Tahun ini banyak hal terjadi. Dari berbagai aspek dalam hidup saya, banyak diantaranya yang cukup berkembang, seperti kemandirian, Alhamdulillah tahun ini saya lebih mandiri secara finansial. karya-karya di waktu senggang, serta belajar berkegiatan positif dengan lebih banyak.

Banyak kebahagiaan yang saya rasakan, capaian-capaian yang lama diimpikan, satu persatu mulai tergapai. Salah-satunya di 10 Maret sampai 6 April 2018 saya menunaikan ibadah Umrah ke tanah suci, sungguh anugrah luar biasa yang jika kembali ke 5 tahun lalu, itu hanya khayalan di siang bolong saat menunggu adzan Dhuhur. Selain itu saya berkesempatan magang selama 3 bulan di agensi perjalanan; PT. Talaza Global Savana sebagai desainer grafis. Pengalaman luar biasa yang membuka mata saya akan peluang para pegiat konten kreatif di masa depan, dan membuat saya semakin bersemangat mengembangkan skill editing yang dulu bermula main-main.

Di bidang akademisi juga saya masih diizinkan untuk tidak tertahan di satu tingkat, Alhamdulillah lulus di ujian meski dengan nilai pas-pasan. Setiap saat saya berusaha berbenah, memperbaiki jadwal rutinitas yang sebelumnya hanya menunjang kegiatan keorganisasian perlahan menyibukkan diri dalam aktifitas keilmuan dengan pindah ke Darosah dari bulan Maret untuk mulai bermulazaman dengan Masyayikh Azhar.

Saya banyak berterimakasih kepada kawan-kawan serumah di Rumah Masa Depan yang selalu membawa atmosfir positif untuk mengembangkan diri. Untuk Abdul Fatah Amrullah asal Bogor yang selalu 'ngajak ngaji' dan mencintai buku, mas Fardan Satrio Wibowo asal Banjarnegara yang semangat menuntut ilmunya membuat saya iri, Albi Tisnadi Ramadhan asal Bogor yang mengajarkan saya arti proses dan prioritas, Ahmad Faisal asal Bandung yang mempercayai saya untuk dititipi banyak hal, yang paling berkesan adalah kisah asmara dan pengalaman dipercayai menjadi 'konsultan'.

Untuk Ahmad Nurai asal Garut, yang adalah teman saya semenjak di Pondok, dengan usia persahabatan yang cukup dekat hingga dikatakan akan bertahan selamanya, Amin. Juga Yahya Wawan yang belakangan melengkapi kekurangan anggota rumah kami, dengan semangat bersih-rapi dan didikan orangtua yang dijaga dengan sekuat tenaga membuatnya layak menjadi sahabat karib, (dan mudah-mudahan mau diajak berjuang satu periode nanti, amin). Sungguh kebersamaan ini akan sementara, namun kesan yang tercipta antar kita akan menyelama.

Dan sebagaimana cara dunia ini di mana pun bekerja, ada masa-masa di mana saya merasakan kehilangan, untuk setiap harapan yang pupus; penyesalan untuk setiap kesalahan yang terulang; hingga kecewa untuk banyak hal di luar dugaan yang malah terjadi. Ingin rasanya menuliskan semua kesialan itu disini, mungkin nanti, atau tidak usah samasekali.

2018 akan tetap pergi. Kita juga akan tetap begini. Yang berbeda adalah usia kita yang semakin berkurang.

Ada harapan baik untuk esok hari, semoga menjadi awal dari pencapaian-pencapaian baru yang lebih baik, peribadi yang tambah baik, keluarga yang semakin rukun, persahabatan yang semakin solid, masa depan yang gemilang semakin kian tak berjarak.

Esok juga semoga menjadi akhir dari pribadi buruk, yang senang ketika orang lain sulit, berburuk sangka untuk setiap hal yang tak difahami, kurang bersabar menghadapi pribumi, lupa bahwa ini rumah mereka, kita hanya tapi yang menumpang.