![]() |
Ini bukan press release
apalagi rangkuman dari hasil kumpulan. Ini hanya catatan pribadi sebagai
anggota Viktif yang menghadiri rapat penentuan
arah yang tak tentu arah dan berlangsung selama enam setengah jam (16.00-23.40).
Maaf jika ada narasi yang dibangun, maaf juga kalau bersudut pandang, karena
sekali lagi ini bukan berita yang harus berimbang, melainkan sekadar catatan
pribadi di blog pribadi.
Tapi akan berusaha ditulis
seberimbang mungkin, sejujur mungkin. Jika nanti ada hal-hal keliru, sangat
terbuka untuk dikoreksi. Jjuga ini tidak akan bersifat kronologis. Hanya poin-poin
yang dirasa terlalu bergumul di hati sendiri, sulit dilerai sehingga berusaha
diurai.
Okay, mari kita mulai.
Ini tentang hasil kumpulan tadi, Rapat
bersama PPMI, Wihdah, Ketua-ketua Kekeluargaan dan Protkons KBRI Kairo di Aula
Konsuler tentang ‘Mau dibawa ke mana Viktif’.
Apa pokok bahasan sebenarnya?
Kalau sesuai undangan yang
beredar, sebetulnya pembahasan rapat ini hanya 2, yaitu ‘arah langkah Viktif ke
depannya, dan solusi kepindahan markas Viktif dari konsuler’.
Tapi dari mulai rapat sampai menjelang Magrib pembahasan berputar di seputar testimoni senior-senior saat mereka mengurus izin tinggal dulu, beberapa sampai belasan tahun lalu.
Lalu saat dirasa pembahasan mulai
tidak terarah, bahasan dikembalikan lagi ke masalah utama, yaitu pengurusan
Visa yang tersendat dan lama sekali.
Masalah apa yang timbul yang
lalu berkembang di rapat?
Masalah yang kemudian dibahas
adalah tentang penumpukan berkas yang pengurusannya sampai berbulan-bulah dan
tidak jelas akan selesai kapan. Selidik demi selidik, ternyata kendala
sebenarnya adalah—sebagaimana yang sering disampaikan Viktif di akun FB resmi—adalah
karena faktor di kantor imigrasi Buuts Gawazat sendiri yang bermasalah. Mulai dari
sistem dan pengampu tugasnya yang diganti, sampai pengurangan jumlah pegawai
Gawazat Buuts yang signifikan (dari yang awalnya di tahun lalu masih 20-an
orang menjadi hanya 5 orang saja), ditambah aturan-aturan baru pemerintah Mesir
terkait Tasdik, Gharamah dan jumlah mahasiswa asing yang tahun demi tahun
melonjak drastis menambah parah antrian pengurusan ini menjadi semakin—meminjam
istilah senior yang ikut kumpul tadi—carut marut. Jadi secara garis besar,
masalah penumpukan ini bukan di Viktif.
Tapi kenapa Viktif masih dinyinyiri, ya? Rupa-rupanya karena masalah biaya yang sedari penetapan pertama kali masih sengketa (maksudnya masih ada beberapa pihak yang tidak merasa menyetujui angka itu karena tertekan oleh keadaan) dan diklaim sebagian orang ‘melebih-lebihkan’ dan memberatkan. Maka diauditlah (audit adalah bedah data, red. peserta rapat) biaya 90 pond itu ke mana saja.
![]() |
| Rincian biaya pengurusan Viktif 2018-2019 |
Setelah dibedah, ternyata
ketahuanlah bahwa honor tim Viktif untuk 4 hari masuk perminggu adalah sebesar 1000
pond. Keterlaluan sekali rasanya, kalai ini masih diperdebatkan. Lalu dipermasalahkanlah rincian
biaya lainnya seperti transportasi, konsumsi dan ATK. Tapi setelah dijelaskan ternyata memang
tepat sesuai kebutuhan dan tidak ‘dilebih-lebihkan’.
Lalu dipermasalahkan lagi soal
keterbukaan Viktif dalam dana dan rekrutmen anggota. Dijelaskanlah bahwa sampai
saat ini, ajuan legalisasi status Viktif yang dilayangkan dari akhir tahun 2017
pun belum mendapat persetujuan, lalu bentuk transparansi apa yang diharapkan? Kepada
siapa nantinya laporan keterbukaan itu disampaikan, sedangkan status legalnya
saja belum selesai. Maka Viktif menolak membuka buku keuangan tahun-tahun
sebelumnya karena tidak berkewajiban untuk dapurnya diketahui khalayak banyak.
Sampai situ, Viktif salah karena
sudah tidak transparan dalam keuangan. Tapi kan emang ‘belum berkewajiban
untuk melapor kepada siapapun, kan?’. Tapi yasudah, forum rapat menyepakati
pengurusan selanjutnya harus transparan, tentunya setelah legal standingnya
dibuat dan diperjelas.
Lalu masalah keterbukaan rekrutmen,
dipermasalahkan juga. Padahal kalau melihat dulunya, ketika awal mula tim ini
terbentuk, para pengurusnya adalah relawan dari PPMI, Wihdah dan KPP-Maba. Banyak
yang tidak bertahan dan tidak sanggup terus-menerus jadi relawan akhirnya
keluar. Nah, menutupi kekurangan personil ini akhirnya tim merekrut lah orang
yang mau dan dekat secara personal, supaya kerja ‘relawan’ ini nyaman dijalani.
Lalu ketika sekarang Viktif tidak lagi bersifat ‘relawan’, lalu anggotanya
mendapat honor 1000 Le perbulan. Maka ramailah isu ketidak-terbukaan Viktif
dalam merekrut anggota. Loh?
Mengenai pembubaran diri,
siapa yang membubarkan?
Masalah pengunduran diri ini
sebetulnya adalah reaksi dari instruksi KBRI untuk memindahkan kantor ke luar
konsuler. Ketika itu tim berembuk merumuskan jalan keluar yang akan ditempuh,
karena masalahnya tidak sesepele menganggkat semua barang dari konsuler ke
tempat lain, melainkan banyak pertimbangan yang perlu diperhatikan. Diantaranya—dan menjadi konsen
utama—adalah masalah keamanan. Jika ini dipindah ke luar, tim merasa akan sangat
tidak siap menanggung ancaman penggeledahan oleh aparat atau tindak kriminal maling
jika sampai tempat baru itu nanti menjadi pusat aktifitas Viktif yang 2 kali
seminggu para mandub untuk setor berkas dan beberapa warga yang datang untuk berkonsultasi. Tentu bukan
masalah jika itu masih di konsuler—sebagai mana biasa— , karena baik aparat maupun warga sekitar
tahu bahwa itu adalah konsulatnya warga Indonesia. Lalu apa jadinya jika ada
satu tempat biasa namun fungsinya seperti fungsi konsulat warga negara
Indonesia di pertengahan pemukiman Gami—misalkan? Tentu saja tim Viktif sangat
tidak siap untung memikul beban itu.
Belum lagi masalah tambahan biaya
jika jika pindah markas. Biaya sewa dan pengadaan fasilitas yang tidak lagi
bisa ‘nebeng’ ke fasilitas negara yang penggunaannya diatur di—lagi-lagi saya
ingin meminjam istilah yang digunakan kakak senior yang faham hukum perundangan
Indonesia yang tadi berkesempatan hadir—undang-undang nomor 27 tahun 2014
tentang Pengelolaan Barang Milik Negara. Siapa nanti yang akan menanggung
biaya-biaya itu? Konsuler dan KBRI sudah sejak awal tidak menyanggupi itu. Lalu
siapa? Masisir? Yang padahal kenaikan terakhir kali masih terus diungkit di 3
perkumpulan terakhir Viktif dengan narasi Viktif melebih-lebihkan biaya
pengurusan? Memikirkan harus berhadapan dengan Masisir untuk tawar-menawar
harga ini membuat tim menggidik ngeri.
Dengan dua hal tersebut saja, tim
merasa sangat keberatan dan tidak akan sanggup memikul akibat jika harus ‘keluar
dari konsuler’—yang kata sebagian hadirin ini urusan teknis dan sangat sepele—. Maka dengan kesadaran penuh dan pertimbangan matang tim
menyatakan—menghindari kata ‘bubar’ yang dipandang terlalu radikal oleh
sebagian yang hadir—mengundurkan diri.
Namun dahsyatnya praduga tanpa
klarifikasi. Keputusan Viktif untuk mengundurkan diri ini malah dikira adalah
skenario Viktif supaya KBRI terdesak dan mengizinkan lagi Viktif kembali di
konsuler. Saya tegaskan di sini, Viktif tidak punya skenario apa-apa selain
keputusan mengundurkan diri karena 2 alasan utama tersebut di atas. Ini belum
jika saya tulis sebab-sebab lain kemunduran diri ini dari sisi psikologis
anggota tim saat diteror dan disudutkan berbagai pihak, dituduh yang
macam-macam, selalu dicurigai dan lain sebagainya. Rasanya semakin mantap saja
keputusan untuk mengundurkan diri ini jika itu semua dikemukakan.
Lalu bagaimana jalannya rapat
kemudian?
Kemudian tanggung jawab
pengurusan izin tinggal mahasiswa dialihserahkan kepada Stake Holder
Masisir—setelah dilepas oleh Viktif dengan kemunduran dirinya—untuk akan dibawa
ke mana selanjutnya. Maka muncullah opsi untuk membentuk tim baru yang akan siap
memikul tanggungjawab tadi dengan meminta kesediaan salah-satu senior yang
dipandang mampu dan punya track record berhasil melobi pihak Gawazat
beberapa kali. Senior tersebut bersedia, namun beberapa perwakilan dari
kekeluargaan ada yang masih ragu dengan usulan ini, dan membujuk tim Viktif
untuk mau kembali menguruskan dengan perbaikan di sistem dan hal-hal teknis
lainnya, dan dengan jaminan Stack holder Masisir yang hadir terkait beberapa hal.
Namun sampai akhir, tim masih
kukuh dengan keputusan mundur, apalagi ditambah dengan statemen salah seorang
hadirin yang mengatakan bahwa Viktif sudah meludah—dengan memutuskan mundur, masa' ludah itu akan dijilat kembali. Padahal kondisinya adalah perwakilan
kekeluargaan ‘membujuk’ Viktif untuk mau kembali. Bukan yang lain-lain. Tapi, Yasudah lah.
Hasil akhir kumpulnya jadinya
seperti apa?
Sejauh yang saya ingat, akhirnya
beberapa senior yang vokal di awal-awal kumpul satu persatu meninggalkan
tempat, meniggalkan bahasan panas yang belum kunjung mendapat titik terang
selain keputusan akan dialihkan ke MPA, BPA dan PPMI selaku induk organisasi
mahasiswa, padahal sebelumnya posisi MPA BPA yang strategis ini dikeluhkan
karena beberapa tahun terakhir diisi oleh anak-anak baru, tapi giliran diminta
solusi malah diserahkan ke ‘anak-anak baru’ ini.
Beberapa upaya penyelesaian
masalah berlanjut dibicarakan, opsi memajukan senior yang ‘berpengalaman’ pun kembali
dipertimbangkan. Namun saat ada salah-satu senior memutuskan keluar ruangan sambil
menggumulkan kata ‘munafik’ di depan pintu keluar kontan membuat ‘jubir’ Viktif
mengultimatum keputusan final bahwa Viktif akan tetap bubar dengan tetap
bertanggungjawab menyelesaikan 900 berkas yang sudah terlanjur diuruskan dan
mengembalikan 500 berkas baru yang belum tersentuh ke mandub masing-masing. Dan
bola panas keputusan kelanjutan pengurusan izin tinggal kolektif ini mengambang
di tangan Stake Holder Masisir.
Rapat sudah berakhir. Segala kejadian
terekam di siaran langung yang diposting. Siapapun bisa cross check
segala apapunnya.
Lagi-lagi ini hanyalah kegeraman yang dirasakan penulis. Terserah mau menyimpulkan apa, penilaian adalah hak siapapun yang bisa menilai, dan sebaik-baiknya penilaian adalah penilaian Dia yang tidak akan pernah salah menilai.
Lagi-lagi ini hanyalah kegeraman yang dirasakan penulis. Terserah mau menyimpulkan apa, penilaian adalah hak siapapun yang bisa menilai, dan sebaik-baiknya penilaian adalah penilaian Dia yang tidak akan pernah salah menilai.
Yang jelas, sudah tidak ada
Viktif hari ini, lalu bagaimana dengan esok?
Cairo, 23 Mei 2019

