Kurang lebih setahun yang lalu, tepatnya pada 7 Januari 2018 saya
bersama karib saya; Azrul Faizal Kazein menulis selembar daftar target capaian
yang akan kami upayakan selama satu tahun di 2018, yang kami namai resolusi
2018.
Meski kami namai resolusi,
ternyata belakangan baru saya sadari bahwa penamaan itu keliru menurut KBBI V
0.2.0 Beta (20) secara makna. Karena yg dimaksud KBBI dengan resolusi adalah
keputusan berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan dalam suatu rapat
atau musyawarah.
Dalam tulisan ini saya hanya
akan membahas resolusi yang itu adalah suatu tradisi yang biasa dilakukan
sebagian orang menjelang pergantian tahun, isinya biasanya mencakup renungan
dan evaluasi selama setahun ke belakang, dari mulai pencapaian yang patut disyukuri,
hingga berbagai kegagalan yang dialami, untuk diambil pelajaran dan dievaluasi
di tahun mendatang. Saya tidak tahu apa ada suatu teori yang menjelaskan
bagaimana cara beresolusi yang baik dan paripurna, tapi setidaknya itulah template (saya
belum tahu padanan kata yang baik dan benar untuk kata itu dalam bahasa
Indonesia) yang biasa saya lakukan.
Sebetulnya resolusi 2018 itu
adalah resolusi yang baru saya buat—lagi, setelah beberapa tahun absen—karena
tiba-tiba muncul kesadaran untuk menarget dan menjalani hidup lebih tertib
lagi. Karena ada yang bilang "Of you fail to plan, You plan to fail".
Eaakk..
Menulis resolusi sebenarnya
gampang-gampang susah, Iya! gampang ditulisnya, gampang direncanainnya,
tapi, ya gitu, susah ngerealisasiinnya, haha.. Tapi mulai awal
tahun 2018 ini, saya mulai menemukan teori bagaimana cara menulis resolusi yang
baik dan benar. Singkatnya, dalam beresolusi saya mulai dengan merenungkan dan
mengevaluasi apa saja yang terjadi selama satu tahun ke belakang, dari mulai
keberhasilan-keberhasilan yang dicapai, hingga kegagalan-kegagalan yang
dialami. Setelah itu, saya tutup lembar masa lalu, memperbaharui niat dalam
hati untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan mulai menulis.
Saya tidak menulis hal-hal
rumit dan luar biasa, saya hanya menuliskan apa saja keinginan yang ketika itu
terlintas, tidak terlalu banyak, tidak juga muluk-muluk. Cukup metulis hal-hal
sederhana yang saya anggap akan bisa dilaksanakan selama setahun ke
depan.
Dalam penulisan, saya membagi
hidup saya dalam empat sisi yang masing-masingnya ingin ada target yang akan berusaha
saya capai. Prestasi, kemampuan/pengembangan skill, hobi, dan kemandirian. Di
daftar resolusi itu, saya menuliskan 19 hal sederhana yang saya anggap mencakup
keempat sisi itu, dan dari 19 hal itu—setelah saya cek lagi—ternyata hanya 5
hal yang tercapai, sisanya terpenuhi sebagiannya, masih dalam proses dan belum
selesai, dan gagal total tidak terlaksana.
Untuk keinginan-keinginan yang
tercapai, saya ingin satu hari mengapresiasi diri sendiri dengan jalan-jalan,
atau membeli barang yang diinginkan. Karena selama setahun ini kita sudah
baik-baik saja, dan berjuang melawan setiap kesulitan dengan tetap optimis.
Untuk hal-hal yang masih saya
lakukan tapi belum selesai, selama itu masih akan relevan dengan resolusi tahun
mendatang akan tetap diupayakan, karena apa yang kita mulai harus kita
selesaikan.
Terakhir, hal-hal yang tidak
bisa saya lakukan, saya tidak sama-sekali putus asa. Saya berniat di tahun
depan akan saya mulai, dan saya upayakan lebih keras lagi agar bisa tercapai.
Meski sudah ada resolusi-resolusi itu, hidup kita tetap akan
terjadi di luar kehendak kita. Seperti serunya sebuah serial film, akan menarik
ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi di scene berikutnya, begitu
pula hidup akan semakin asyik ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok
hari.
