30/12/18

Resolusi 2018 dan Merencanakan Hidup Lebih Baik


Kurang lebih setahun yang lalu, tepatnya pada 7 Januari 2018 saya bersama karib saya; Azrul Faizal Kazein menulis selembar daftar target capaian yang akan kami upayakan selama satu tahun di 2018, yang kami namai resolusi 2018. 

Meski kami namai resolusi, ternyata belakangan baru saya sadari bahwa penamaan itu keliru menurut KBBI V 0.2.0 Beta (20) secara makna. Karena yg dimaksud KBBI dengan resolusi adalah keputusan berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan dalam suatu rapat atau musyawarah. 

Dalam tulisan ini saya hanya akan membahas resolusi yang itu adalah suatu tradisi yang biasa dilakukan sebagian orang menjelang pergantian tahun, isinya biasanya mencakup renungan dan evaluasi selama setahun ke belakang, dari mulai pencapaian yang patut disyukuri, hingga berbagai kegagalan yang dialami, untuk diambil pelajaran dan dievaluasi di tahun mendatang. Saya tidak tahu apa ada suatu teori yang menjelaskan bagaimana cara beresolusi yang baik dan paripurna, tapi setidaknya itulah template (saya belum tahu padanan kata yang baik dan benar untuk kata itu dalam bahasa Indonesia) yang biasa saya lakukan.

Sebetulnya resolusi 2018 itu adalah resolusi yang baru saya buat—lagi, setelah beberapa tahun absen—karena tiba-tiba muncul kesadaran untuk menarget dan menjalani hidup lebih tertib lagi. Karena ada yang bilang "Of you fail to plan, You plan to fail". Eaakk..

Menulis resolusi sebenarnya gampang-gampang susah, Iya! gampang ditulisnya, gampang direncanainnya, tapi, ya gitu, susah ngerealisasiinnya, haha.. Tapi mulai awal tahun 2018 ini, saya mulai menemukan teori bagaimana cara menulis resolusi yang baik dan benar. Singkatnya, dalam beresolusi saya mulai dengan merenungkan dan mengevaluasi apa saja yang terjadi selama satu tahun ke belakang, dari mulai keberhasilan-keberhasilan yang dicapai, hingga kegagalan-kegagalan yang dialami. Setelah itu, saya tutup lembar masa lalu, memperbaharui niat dalam hati untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan mulai menulis. 

Saya tidak menulis hal-hal rumit dan luar biasa, saya hanya menuliskan apa saja keinginan yang ketika itu terlintas, tidak terlalu banyak, tidak juga muluk-muluk. Cukup metulis hal-hal sederhana yang saya anggap akan bisa dilaksanakan selama setahun ke depan. 

Dalam penulisan, saya membagi hidup saya dalam empat sisi yang masing-masingnya ingin ada target yang akan berusaha saya capai. Prestasi, kemampuan/pengembangan skill, hobi, dan kemandirian. Di daftar resolusi itu, saya menuliskan 19 hal sederhana yang saya anggap mencakup keempat sisi itu, dan dari 19 hal itu—setelah saya cek lagi—ternyata hanya 5 hal yang tercapai, sisanya terpenuhi sebagiannya, masih dalam proses dan belum selesai, dan gagal total tidak terlaksana.

Untuk keinginan-keinginan yang tercapai, saya ingin satu hari mengapresiasi diri sendiri dengan jalan-jalan, atau membeli barang yang diinginkan. Karena selama setahun ini kita sudah baik-baik saja, dan berjuang melawan setiap kesulitan dengan tetap optimis.

Untuk hal-hal yang masih saya lakukan tapi belum selesai, selama itu masih akan relevan dengan resolusi tahun mendatang akan tetap diupayakan, karena apa yang kita mulai harus kita selesaikan. 

Terakhir, hal-hal yang tidak bisa saya lakukan, saya tidak sama-sekali putus asa. Saya berniat di tahun depan akan saya mulai, dan saya upayakan lebih keras lagi agar bisa tercapai.

Meski sudah ada resolusi-resolusi itu, hidup kita tetap akan terjadi di luar kehendak kita. Seperti serunya sebuah serial film, akan menarik ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi di scene berikutnya, begitu pula hidup akan semakin asyik ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.