16/09/18

PESANTREN SIHIR



Aku mengalami ini beberapa tahun lalu, tepatnya ketika aku masih remaja dan tinggal di sebuah pondok pesantren tradisional di sebuah desa terpencil yang jauh dari hingar bingar kota maupun kemajuan zaman. Pesantrenku sendiri merupakan pesantren tradisional yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu keislaman klasik, dengan materi kitab-kitab kuning tanpa silabus, semua pengajaran berdasar pada kehendak kiai tanpa aturan baku. Pesantren ini—sebagaimana pesantren klasik di mana pun—benar-benar tidak menerapkan etika pengajaran sebagaimana yang aku pelajari belakangan. Maksudku, disini kita belajar tanpa ada jam belajar yang baku, pembagian kelas yang jelas, materi tanpa silabus dan kurikulum, staf pengajar yang hanya berfokus pada kiai—meski dia dibantu oleh beberapa ustaz yang juga lulusan pesantren itu—, dan metode pengajaran yang hanya sebatas ceramah, tanpa kewajiban menulis, memahami, atau bahkan praktik. Meski begitu, orangtuaku tetap mendaftarkanku di pesantren itu. Menurut mereka, Islam yang baik dan masih murni tanpa percampuran faham merusak hanya diajarkan di tempat-tempat terpencil seperti itu.

“Disini, kita benar-benar mengedepankan yang namanya keberkahan, tidak peduli sehebat apapun kamu, serajin apapun kamu, sepintar apapun kamu, jika kiai tidak meridai kamu, maka kamu sama-sekali bukan apa-apa selain hanya murid yang tidak berguna.” Seniorku—yang entah umurnya sudah berapa, karena janggutnya sudah benar-benar panjang, tapi masuk di kelas yang sama denganku—suatu hari bercerita.

Pernah juga Pak Kiai bercerita tentang riwayat seorang Kiai, yang ketika di pesantren bukannya belajar, tapi malah menjadi khadim untuk Kiainya, hingga beberapa tahun tidak pernah diajarkan apapun oleh sang Kiai. Tapi begitu dia disuruh pulang, di kampungnya ia bisa menjawab segala macam permasalahan keagamaan masyarakatnya, sungguh ajaib, tapi kemudian dia benar-benar menjadi Kiai yang membina pesantrennya sendiri. “Itulah nilai keberkahan.” Tukas sang Kiai di akhir pengajian sore itu.

Aku merupakan santri termuda di pesantren, orangtuaku cukup banyak memberikan bantuan demi keberlangsungan pesantren yang tidak ada kewajiban iuran dari para santrinya sama sekali itu, sehingga aku dikenal oleh Pak Kiai dan dekat dengannya. Pernah suatu ketika aku bangun kesiangan, setelah semalam suntuk mengaji hingga subuh. Aku tidur setelah subuh hingga melewati waktu Duhur, lalu kaget karena Pak Kiai sendiri yang repot-repot datang ke kamar untuk membangunkanku. “Bangun, Jang!” katanya waktu itu seraya tersenyum ramah, sungguh berbeda auranya saat itu, tidak seperti ketika mengajar yang penuh dengan ketegasan.

Kabar kedekatanku dengan kiai tidak serta merta disukai semua santri, meski begitu, tidak ada satupun yang mempermasalahkannya. Sungguh, kehidupan santri disana sangat mengedepankan sosok kiai dan seperti hanya memburu keberkahannya.

Suatu Isya, di bulan ke-10 aku mondok di sana. Saat akan membahas kitab tauhid Sullam Taufiq di kelas Saung, yaitu bangunan berupa gubuk di samping hamparan sawah, dengan penerangan dua buah lampu kuning 24 watt di bagian depan dan belakang, Para santri duduk berkelompok, menyebar di seluas saung itu, sedang aku hanya melamun duduk sendirian, sembari memegang kitab yang terbuka tanpa aku lihat sama sekali, bersandar di tiang bambu paling belakang.

Pak kiai belum hadir, samar-samar aku mendengar seorang santri senior yang duduk di gerombolan di sampingku bercerita dengan kawannya.

“Dia berulah lagi, Ki Suna itu, kini semakin meresahkan, kemarin kudengar muridnya sudah berjumlah 6 orang!” Bisiknya resah.
            “Siapa yang baru bergabung itu?” Tanya seorang lain.
            “Iki, Marjuki, temanku semasa kecil.” Keluh seorang lain, muram.
  “Innalillahi, kudengar akadnya tengah malam kemarin, di gubuk sawah tengah, jeritannya keraaas pisan, sampai terdengar ke sini.” Salah seorang lain menyaut, ia menggidik.
“Assalamualaikum.” sekonyong-konyong terdengar salam dari Pak Kiai, beliau sudah tiba, yang lalu berbalas dengan jawaban salam dari semua santri yang hadir saat itu. Serentak semua santri membentuk barisan-barisan rapi, aku pindah dari belakang itu dan duduk di barisan terdepan, di posisi paling kiri dekat dengan pagar yang paling mendekati sawah, tempat favoritku.
Setelah duduk di kursinya, di depan kami semua, setengah menunduk Pak Kiai berbisik dengan suara yang sepertinya hanya bisa didengar olehku seorang: “Jangan bahas Ki Suna lagi, karena utusannya bisa jadi tengah sembunyi di kolong saung ini.” Aku terhenyak, juga beberapa orang di barisan paling belakang yang tadi mengobrol itu. Tapi tidak dengan sisa santri yang lain, mereka sama sekali tidak bereaksi, seperti tidak mendengar apapun dari ucapan Pak Kiai barusan. Saat itu aku sadar satu hal, sepertinya Pak Kiai tau segala macam obrolan yang tersebar di pesantrennya dan bisa menghimbau hanya kepada orang yang tepat yang dia inginkan.
Pelajaran dimulai, kali ini Pak Kiai membahas tentang sihir dan kaitannya dengan akidah Islam. Tapi dampak dari ucapan Kiai tadi rupanya masih membekas di benakku, beberapa kali aku kehilangan konsentrasi karena mencoba fokus melihat bawah saung itu dari celah lantai bambu.
***
Saat itu sudah waktu Dhuha, aku sedang berjalan sendiri menyusuri hutan menuju desa terdekat untuk membelikan titipan Pak Kiai. Jarak perjalanan kira-kira masih 3 jam lagi, karena jarak dari pesantrenku ke desa terdekat sekitar 6 jam jalan kaki.
“Nanti di jalan, saat melewati daerah Sawah Gede, baca dzikir istihfaz dan teruslah berjalan, jangan sekalipun menutup mata, atau mengalihkan pandangan selain ke arah jalan. Jangan pedulikan apapun dan teruslah berjalan, mengerti?” titah Kiai yang masih terngiang-ngiang di kepalaku sepanjang perjalanan.
Beberapa meter lagi aku akan keluar dari jalur hutan dan akan memasuki daerah Sawah Gede yang merupakan daerah terluar dari desa yang aku tuju. Dadaku berdebar, setiap langkan rasanya semakin menambah gentar, aku mulai lamat-lamat membaca dzikir, sesuai perintah Kiai. Di kepalaku khayalan terus-terusan meliar, membayangkan apa yang diwaspadakan kiai kepadaku, rasa penasaran malah merayuku untuk menoleh ke arah lain, semakin lama semakin menggoda. Akal sehatku berusaha melawan, aku menanamkan betul-betul rasa taatku pada Kiai, bertekad tidak akan menuruti rasa penasaran yang bisa jadi malah akan membahayakan.
Tiba-tiba sesuatu membentur bagian belakang kepalaku, rasanya sakit sekali, tanganku refleks menyentuh bagian yang sakit itu, lalu aku merasakan cairan hangat. Seketika langkahku sempoyongan lalu tersandung sesuatu, dan secara tiba-tiba muncul seonggok batu tepat di tempat kepalaku akan jatuh, aku menoleh ke kiri mencoba menghindar dan ‘blamm’, kepalaku terbentur keras di bagian kanan. Sekilas aku melihat sesosok bayangan putih terbang menuju sebuah gubuk kecil di tengah sawah, kemudian semuanya menghitam.
***
Aku terbangun, suasana tampak muram, semuanya gelap. Setelah beberapa kedip tidak ada perubahan pada suasana itu, namun perlahan aku mulai menyadari kondisiku. Aku mendapati diriku terduduk di satu bangku paling samping di deretan bangku-bangku plastik, dekat jendela, di dalam sebuah ruangan mirip gerbong kereta yang sedang melaju.
Aku memandang ke depan, mendapati beberapa orang yang ku asumsikan sebagai penumpang lain di ‘gerbong’ ini. Di samping kananku empat orang penumpang lain terduduk lesu, keringat bercucuran dari kening mereka, mengular hingga dagu. Tepat di samping kananku adalah seorang ibu muda yang sedang menggendong bayinya yang terlelap di pangkuan, kulihat kepala bayi itu menelungkup di bahu kiri sang ibu. Wanita itu cantik, anaknya lucu, pikirku.
Aku menoleh ke kiri, melihat ke luar jendela yang hampir membuatku berteriak kencang. Kudapati pemandangan gunung-gunung tinggi seperti yang biasa ku lihat di film dokumenter dataran Cina, suasana langit begitu muram. Aku menjorokkan kepalaku ingin lebih yakin akan apa yang sedang kulihat, dan terkejut mendapati bahwa kereta kami tidak berjalan di atas rel sama sekali. ‘Kereta ini melayang!’ Pekikku dalam hati ketakutan.
Di tengah kekalutanku, tiba-tiba ibu muda itu menggenggam tangan kananku dan menariknya ke punggung sang bayi, aku mengerti lalu menerima bayi itu untuk beralih ke pangkuanku.
“Menurutmu kita akan kemana?” tanya sang ibu muda.
“Tidak tahu.” Jawabku.
“Kita sedang menuju akhirat.”
Aku terhenyak. Mataku setengah terbelalak. ‘Rupanya aku sudah mati’, gumamku lemas.
Aku memandang luar jendela, langit semakin gulita. Seperti semangatku yang kian temaram, menuju padam.
Setelah beberapa waktu yang sangat lama—sampai-sampai tanganku keram menggendong bayi itu—gerbong itu tiba-tiba menciut menuju satu titik, lalu kemudian buyar menjadi kepulan asap tebal. Semuanya menghilang, tanpa kecuali si wanita cantic dengan bayi di panguannya itu, bahkan tubuhku ikut menyusut. Setelah senyap beberapa saat, aku merasakan badanku kembali utuh, tidak kurang sesuatu apapun. Lalu kemudian aku mendapati diriku tengah di ambang pintu sebuah ruangan bernuansa rumah klasik Jepang berukuran sekitar tiga kali lima meter, dengan papan kayu dan pintu berangka kayu berbalut kertas tebal, khas rumah klasik negri Sakura. Aku menoleh ke belakang lalu meloncat kaget masuk ke ruangan itu, di belakangku adalah bibir jurang dengan gunung-gunung khas Cina yang tadi aku lewati, dengan suasana langit yang semakin gulita, berselimut kabut hitam tebal, namun bulan bersinar terang menyabit bagai perak, aku berbalik.
Aku melangkah masuk, belum sampai tengah pintu, kamar itu terbuka dengan keras, orang-orang berhamburan masuk lalu keluar lewat pintu lain di dinding sebelah kanan. Hingga tersisa seorang anak yang bersembunyi di dekat pintu itu, menggigil ketakutan dengan mata melotot melihat keadaan di luar.
Aku melangkah ke ambang pintu, meliat pemandangan tak asing seperti yang biasa aku lihat di Saung tempat kami biasa mengaji, yaitu pemandangan sawah dengan tanaman padi yang tinggi bak ilalang, sudah menguning dan siap dipanen, sengan satu petak sawah yang berumput rendah.
Di sana aku melihat dua kelompok berjumlah masing-masing tiga orang, duduk bersila saling berhadapan, di tengah mereka duduk sesosok pemuda, dengan pakaian mirip kimono Jepang, berwarna putih cerah, rambutnya panjang dan lurus berwarna putih perak, mukanya putih tersepuh bedak tebal, dengan bibir merah seperti menggunakan lipstik. Suasana hening, ‘Itu sesosok putih yang kulihat di Sawah Gede!’ mataku terbelalak sadar. Aku menggidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi.
Sejurus kemudian muncul dari celah tanaman padi yang setinggi pinggang itu, sesosok gagah dengan pakaian serba hitam, mirip pakaian Silat, dengan ikat kepada hitam menutupi dahi, dan tongkat emas seperti milik Sun Go Khong dari cerita Kera Sakti serta merta menyerang sesosok putih itu, dan seketika terjadilah perkelahian sengit antara keduanya.
Ke enam orang tadi bangkit dari duduk mereka dan berdiri siaga, masing-masing mewaspadai yang lainnya. Aku dari ambang pintu kamar itu hanya bisa melihat, sambil mengasumsikan bahwa 3 orang yang di sebelah kiri adalah murid si sosok putih itu, karena penampilan mereka lebih berantakan dibanding 3 orang lainnya. Dan yang sebelah kananku adalah murid dari si sosok hitam tadi.
Pergulatan keduanya semakin sengit, percikan api dan kepulan asap berwarna putih keunguan menyeruak tidak biasa, samar-samar terdengar jeritan seorang nenek yang kesakitan, disusul lenguhan pria dewasa dengan suara berat, api berkobar, tertutup asap tebal. Asap tebal menghilang dilalap api, yang lalu tertutupi asap lagi, terus beitu, berulang-ulang. Tubuh keduanya sesekali terlihat dari kilasan dan pergantian serangan dua elemen itu, keduanya saling serang, saling berteriak, saling hantam dengan serangan mematikan. Lalu salah seorang murid dari kubu sebelah kiri melompat masuk ke arena pergulatan itu, membuat asap ungu doninam menyelimuti tiga tubuh itu, Saat api hampir padam, dari kubu kanan seseorang berteriak. “Ayo bantu, Guru dan Ki Suna tengah berada di ambang kematian, raga mereka sudah selayaknya mayat yang tak bisa menahan sedikit sentuhan, bagi keduanya kini sedikit pukulan di jasad akan berdampak sangat hebat dan menyakitkan, serang!!!” yang lalu ketiga murid lelaki berpakaian hitap itu menyeruak masuk, disusul dua orang sisa dari kubu kiri.
Baku hantam antar kubu tidak terelakan, suara rahang retak dan gemeletak gigi terdengar keras, teriakan kesakitan saling bersusulan, lantunan mantra dan zikir saling bersautan, asap dan api berusaha saling mendominasi, mengaburkan pandanganku akan apa yang sebenarnya terjadi, hingga sejurus kemudian gumpalan perkelahian itu membuncah. Enam sosok tubuh menyeruak terpental. Tubuh mereka mengepulkan asap, bekas terbakar dan memar nampak di hampir sekujur tubuh ke enam orang itu.
Lalu di tegah arena asap keunguan perlahan memutih, kemudian memendar menjadi semakin tipis. Di sela-sela asap itu aku bisa melihat sesosok hitam terduduk menghela nafas kelelahan, kumis hitam tebal di hidungnya berkedutan, ia duduk bertumpu pada tongkat emas miliknya. Tubuhnya penuh memar, bekas hangus di beberapa bagian nampak menghitam, matanya tertutup sembari bibir kerkomat-kamit melantunkan zikir dan doa.
Di sampingnya nampak sesosok putih tergolek kaku, wajahnya mengkriput tidak seperti di awal tadi, bibirnya masih merah namun layu, baju putihnya kusut dan sobek di banyak sisi, rambut keperakannya berhamburan tak menentu, kusut.
Suasana hening, bulan bersinar setengah tertutupi kabut, cahaya temaram dengan angin malam yang sayup-sayup menggelitik kulitku yang ternyata sudah basah oleh keringat dingin, punggungku basah, dan keringat dingin mengalir menyusuri pipi ke daguku lalu kemudian terjatuh. Aku sama-sekali tak kuasa berbuat apa-apa, bahkan untuk menelan ludah pun aku tak berani, tubuhku kaku ketakutan semenjak tadi.
Tiba-tiba dari samping kamar tempatku itu muncul sebuah buku kuno, tebalnya mungkin beberapa ratus halaman, dengan kertas tebal dan sampul yang terbuat dari kulit berwarna kecoklatan, terbang dikelilingi awan tipis berwarna abu kehitaman. Buku itu terbuka, melayang mendekati si sosok putih, yang seketika dengan kekuatan entah dari mana bangkit lalu merangkak berusaha kabur. Buku itu terus mengejar, sosok putih berteriak histeris, suaranya parau seperti nenek tua yang menahan sakit luar biasa, lengkingan tangisnya memekakkan telinga, suaranya berubah menyerupai keledai yang kesakitan, lalu menjadi suara kakek yang uzur, saut menyaut bergantian. Hingga beberapa saat usahanya untuk kabur terhenti, ia terlentang menahan sakit, sambil berteriak histeris penuh derita.
Buku itu melayang perlahan di atas si sosok putih itu, perlahan namun pasti aku bisa melihat sesosok transparan dari tubuh itu tersedot ke dalam buku, dengan sangat perlahan yang membuat tubuh yang tertarik itu kelonjotan sambil berteriak lebih keras, lebih histeris dan terdengar sangat menyakitkan, bagaikan menahan sakit yang teramat dahsyat.
“Itu adalah siksaan tahap 1, tahapan siksa ragawi” tiba-tiba di kepalaku muncul sebuah suara yang aku kenali itu adalah suara Kiai. Aku terjerembab jatuh karena kaget, “Lihatlah dengan seksama, dia akan menjalani 2 tahap siksaan setelah itu.” lanjut suara itu.
Tiba-tiba di kepalaku muncul kilatan seperti klip-klip kehidupan di sosok putih yang ternyata adalah Ki Suna itu, aku melihat kehidupan masa kecilnya, dia berambut hitam panjang sebahu, dengan pipi kembung sedang dipeluk oleh ayahnya. Anak kecil itu berteriak kesakitan, namun ayahnya tetap menahan dengan memeluk. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi sepertinya itu adalah bentuk persembahan ayahnya untuk sesosok makhluk sembahannya, ‘Gila, dia mengorbankan anaknya sendiri!’ pikirku dalam hati.
Kelebatan itu berubah kian berganti, menampilkan tahapan-tahapan pemujaan dan persembahan yang dilakukan Ki Suna itu hingga bisa menguasai ilmu hitam.
Aku tidak ingat apa lagi yang selanjutnya dikatakan suara dalam kepalaku, yang kuingat adalah sosok Ki Suna yang kini raganya sudah tidak karuan itu tersedot ke dalam buku dan mengisi salah satu bingkai foto yang ada di halaman buku yang terbuka itu, tersegel disana penampakan terkahirnya yang sangat mengerikan.
Kemudian buku tertutup dan ‘buff’, buku itu hilang seketika, begitu juga dengan semua kelebatan dan suasana tak karuan itu, memudar lalu kemudian hilang. Aku tidak ingat apa yang selanjutnya terjadi hingga sesosok sepuh yang ku hormati itu membangunkanku. “Gugah, Jang!” katanya seraya mengusap keningku yang basah oleh keringat dingin. ‘rupanya hanya mimpi, fiuhh’ batinku dalam hati ketika itu.
Bertahun-tahun kemudian, baru aku tahu bahwa itu bukan mimpi, dan semua yang aku alami di pesantren sihir itu adalah kenyataan. Jadi ternyata, sebenarnya aku terkena sihir, kemudian dibawa ke alam gaib, yang ternyata adalah masa lalu dari pesantren itu. Kau tahu apa yang mengagetkan? Adalah bahwa ternyata si lelaki paruh baya berkostum silat itu adalah Pak Kiai, dan Ki Suna itu adalah adik kandungnya!


by: Fathulwadi
2/9/18