Aku mengalami ini beberapa tahun
lalu, tepatnya ketika aku masih remaja dan tinggal di sebuah pondok pesantren
tradisional di sebuah desa terpencil yang jauh dari hingar bingar kota maupun
kemajuan zaman. Pesantrenku sendiri merupakan pesantren tradisional yang hanya
mengajarkan ilmu-ilmu keislaman klasik, dengan materi kitab-kitab kuning tanpa
silabus, semua pengajaran berdasar pada kehendak kiai tanpa aturan baku.
Pesantren ini—sebagaimana pesantren klasik di mana pun—benar-benar tidak
menerapkan etika pengajaran sebagaimana yang aku pelajari belakangan. Maksudku,
disini kita belajar tanpa ada jam belajar yang baku, pembagian kelas yang
jelas, materi tanpa silabus dan kurikulum, staf pengajar yang hanya berfokus
pada kiai—meski dia dibantu oleh beberapa ustaz yang juga lulusan pesantren
itu—, dan metode pengajaran yang hanya sebatas ceramah, tanpa kewajiban menulis,
memahami, atau bahkan praktik. Meski begitu, orangtuaku tetap mendaftarkanku di
pesantren itu. Menurut mereka, Islam yang baik dan masih murni tanpa percampuran
faham merusak hanya diajarkan di tempat-tempat terpencil seperti itu.
“Disini, kita benar-benar mengedepankan yang namanya keberkahan, tidak peduli sehebat apapun kamu, serajin apapun kamu, sepintar apapun kamu, jika kiai tidak meridai kamu, maka kamu sama-sekali bukan apa-apa selain hanya murid yang tidak berguna.” Seniorku—yang entah umurnya sudah berapa, karena janggutnya sudah benar-benar panjang, tapi masuk di kelas yang sama denganku—suatu hari bercerita.
Pernah juga Pak Kiai bercerita tentang riwayat seorang Kiai, yang ketika di pesantren bukannya belajar, tapi malah menjadi khadim untuk Kiainya, hingga beberapa tahun tidak pernah diajarkan apapun oleh sang Kiai. Tapi begitu dia disuruh pulang, di kampungnya ia bisa menjawab segala macam permasalahan keagamaan masyarakatnya, sungguh ajaib, tapi kemudian dia benar-benar menjadi Kiai yang membina pesantrennya sendiri. “Itulah nilai keberkahan.” Tukas sang Kiai di akhir pengajian sore itu.
Aku merupakan santri termuda di pesantren, orangtuaku cukup banyak memberikan bantuan demi keberlangsungan pesantren yang tidak ada kewajiban iuran dari para santrinya sama sekali itu, sehingga aku dikenal oleh Pak Kiai dan dekat dengannya. Pernah suatu ketika aku bangun kesiangan, setelah semalam suntuk mengaji hingga subuh. Aku tidur setelah subuh hingga melewati waktu Duhur, lalu kaget karena Pak Kiai sendiri yang repot-repot datang ke kamar untuk membangunkanku. “Bangun, Jang!” katanya waktu itu seraya tersenyum ramah, sungguh berbeda auranya saat itu, tidak seperti ketika mengajar yang penuh dengan ketegasan.
Kabar kedekatanku dengan kiai tidak serta merta disukai semua santri, meski begitu, tidak ada satupun yang mempermasalahkannya. Sungguh, kehidupan santri disana sangat mengedepankan sosok kiai dan seperti hanya memburu keberkahannya.
Suatu Isya, di bulan ke-10 aku mondok di sana. Saat akan membahas kitab tauhid Sullam Taufiq di kelas Saung, yaitu bangunan berupa gubuk di samping hamparan sawah, dengan penerangan dua buah lampu kuning 24 watt di bagian depan dan belakang, Para santri duduk berkelompok, menyebar di seluas saung itu, sedang aku hanya melamun duduk sendirian, sembari memegang kitab yang terbuka tanpa aku lihat sama sekali, bersandar di tiang bambu paling belakang.
Pak kiai belum hadir, samar-samar aku mendengar seorang santri senior yang duduk di gerombolan di sampingku bercerita dengan kawannya.
“Dia berulah lagi, Ki Suna itu, kini semakin meresahkan, kemarin kudengar muridnya sudah berjumlah 6 orang!” Bisiknya resah.
“Siapa yang baru bergabung itu?”
Tanya seorang lain.
“Iki, Marjuki, temanku semasa
kecil.” Keluh seorang lain, muram.
“Innalillahi, kudengar
akadnya tengah malam kemarin, di gubuk sawah tengah, jeritannya keraaas pisan,
sampai terdengar ke sini.” Salah seorang lain menyaut, ia menggidik.
“Assalamualaikum.” sekonyong-konyong terdengar salam dari Pak Kiai,
beliau sudah tiba, yang lalu berbalas dengan jawaban salam dari semua santri
yang hadir saat itu. Serentak semua santri membentuk barisan-barisan rapi, aku
pindah dari belakang itu dan duduk di barisan terdepan, di posisi paling kiri
dekat dengan pagar yang paling mendekati sawah, tempat favoritku.
Setelah duduk di kursinya, di depan kami semua, setengah menunduk Pak Kiai berbisik dengan suara yang sepertinya hanya bisa didengar olehku seorang: “Jangan bahas Ki Suna lagi, karena utusannya bisa jadi tengah sembunyi di kolong saung ini.” Aku terhenyak, juga beberapa orang di barisan paling belakang yang tadi mengobrol itu. Tapi tidak dengan sisa santri yang lain, mereka sama sekali tidak bereaksi, seperti tidak mendengar apapun dari ucapan Pak Kiai barusan. Saat itu aku sadar satu hal, sepertinya Pak Kiai tau segala macam obrolan yang tersebar di pesantrennya dan bisa menghimbau hanya kepada orang yang tepat yang dia inginkan.
Setelah duduk di kursinya, di depan kami semua, setengah menunduk Pak Kiai berbisik dengan suara yang sepertinya hanya bisa didengar olehku seorang: “Jangan bahas Ki Suna lagi, karena utusannya bisa jadi tengah sembunyi di kolong saung ini.” Aku terhenyak, juga beberapa orang di barisan paling belakang yang tadi mengobrol itu. Tapi tidak dengan sisa santri yang lain, mereka sama sekali tidak bereaksi, seperti tidak mendengar apapun dari ucapan Pak Kiai barusan. Saat itu aku sadar satu hal, sepertinya Pak Kiai tau segala macam obrolan yang tersebar di pesantrennya dan bisa menghimbau hanya kepada orang yang tepat yang dia inginkan.
Pelajaran dimulai, kali ini Pak
Kiai membahas tentang sihir dan kaitannya dengan akidah Islam. Tapi dampak dari
ucapan Kiai tadi rupanya masih membekas di benakku, beberapa kali aku
kehilangan konsentrasi karena mencoba fokus melihat bawah saung itu dari celah
lantai bambu.
***
Saat itu sudah waktu Dhuha, aku sedang berjalan sendiri menyusuri
hutan menuju desa terdekat untuk membelikan titipan Pak Kiai. Jarak perjalanan
kira-kira masih 3 jam lagi, karena jarak dari pesantrenku ke desa terdekat
sekitar 6 jam jalan kaki.
“Nanti di jalan, saat melewati daerah Sawah Gede, baca dzikir istihfaz
dan teruslah berjalan, jangan sekalipun menutup mata, atau mengalihkan
pandangan selain ke arah jalan. Jangan pedulikan apapun dan teruslah berjalan,
mengerti?” titah Kiai yang masih terngiang-ngiang di kepalaku sepanjang
perjalanan.
Beberapa meter lagi aku akan keluar dari jalur hutan dan akan
memasuki daerah Sawah Gede yang merupakan daerah terluar dari desa yang aku
tuju. Dadaku berdebar, setiap langkan rasanya semakin menambah gentar, aku
mulai lamat-lamat membaca dzikir, sesuai perintah Kiai. Di kepalaku khayalan
terus-terusan meliar, membayangkan apa yang diwaspadakan kiai kepadaku, rasa
penasaran malah merayuku untuk menoleh ke arah lain, semakin lama semakin
menggoda. Akal sehatku berusaha melawan, aku menanamkan betul-betul rasa taatku
pada Kiai, bertekad tidak akan menuruti rasa penasaran yang bisa jadi malah akan
membahayakan.
Tiba-tiba sesuatu membentur bagian belakang kepalaku, rasanya sakit
sekali, tanganku refleks menyentuh bagian yang sakit itu, lalu aku merasakan
cairan hangat. Seketika langkahku sempoyongan lalu tersandung sesuatu, dan
secara tiba-tiba muncul seonggok batu tepat di tempat kepalaku akan jatuh, aku menoleh
ke kiri mencoba menghindar dan ‘blamm’, kepalaku terbentur keras di bagian
kanan. Sekilas aku melihat sesosok bayangan putih terbang menuju sebuah gubuk kecil
di tengah sawah, kemudian semuanya menghitam.
***
Aku terbangun, suasana tampak muram, semuanya gelap. Setelah
beberapa kedip tidak ada perubahan pada suasana itu, namun perlahan aku mulai
menyadari kondisiku. Aku mendapati diriku terduduk di satu bangku paling
samping di deretan bangku-bangku plastik, dekat jendela, di dalam sebuah
ruangan mirip gerbong kereta yang sedang melaju.
Aku memandang ke depan, mendapati beberapa orang yang ku asumsikan
sebagai penumpang lain di ‘gerbong’ ini. Di samping kananku empat orang penumpang
lain terduduk lesu, keringat bercucuran dari kening mereka, mengular hingga
dagu. Tepat di samping kananku adalah seorang ibu muda yang sedang menggendong
bayinya yang terlelap di pangkuan, kulihat kepala bayi itu menelungkup di bahu
kiri sang ibu. Wanita itu cantik, anaknya lucu, pikirku.
Aku menoleh ke kiri, melihat ke luar jendela yang hampir membuatku
berteriak kencang. Kudapati pemandangan gunung-gunung tinggi seperti yang biasa
ku lihat di film dokumenter dataran Cina, suasana langit begitu muram. Aku menjorokkan
kepalaku ingin lebih yakin akan apa yang sedang kulihat, dan terkejut mendapati
bahwa kereta kami tidak berjalan di atas rel sama sekali. ‘Kereta ini
melayang!’ Pekikku dalam hati ketakutan.
Di tengah kekalutanku, tiba-tiba ibu muda itu menggenggam tangan
kananku dan menariknya ke punggung sang bayi, aku mengerti lalu menerima bayi
itu untuk beralih ke pangkuanku.
“Menurutmu kita akan kemana?” tanya sang ibu muda.
“Tidak tahu.” Jawabku.
“Kita sedang menuju akhirat.”
Aku terhenyak. Mataku setengah terbelalak. ‘Rupanya aku sudah mati’,
gumamku lemas.
Aku memandang luar jendela, langit semakin gulita. Seperti
semangatku yang kian temaram, menuju padam.
Setelah beberapa waktu yang sangat lama—sampai-sampai tanganku keram
menggendong bayi itu—gerbong itu tiba-tiba menciut menuju satu titik, lalu
kemudian buyar menjadi kepulan asap tebal. Semuanya menghilang, tanpa kecuali
si wanita cantic dengan bayi di panguannya itu, bahkan tubuhku ikut menyusut.
Setelah senyap beberapa saat, aku merasakan badanku kembali utuh, tidak kurang
sesuatu apapun. Lalu kemudian aku mendapati diriku tengah di ambang pintu
sebuah ruangan bernuansa rumah klasik Jepang berukuran sekitar tiga kali lima
meter, dengan papan kayu dan pintu berangka kayu berbalut kertas tebal, khas
rumah klasik negri Sakura. Aku menoleh ke belakang lalu meloncat kaget masuk ke
ruangan itu, di belakangku adalah bibir jurang dengan gunung-gunung khas Cina
yang tadi aku lewati, dengan suasana langit yang semakin gulita, berselimut
kabut hitam tebal, namun bulan bersinar terang menyabit bagai perak, aku
berbalik.
Aku melangkah masuk, belum sampai tengah pintu, kamar itu terbuka
dengan keras, orang-orang berhamburan masuk lalu keluar lewat pintu lain di
dinding sebelah kanan. Hingga tersisa seorang anak yang bersembunyi di dekat
pintu itu, menggigil ketakutan dengan mata melotot melihat keadaan di luar.
Aku melangkah ke ambang pintu, meliat pemandangan tak asing seperti
yang biasa aku lihat di Saung tempat kami biasa mengaji, yaitu pemandangan
sawah dengan tanaman padi yang tinggi bak ilalang, sudah menguning dan siap
dipanen, sengan satu petak sawah yang berumput rendah.
Di sana aku melihat dua kelompok berjumlah masing-masing tiga orang,
duduk bersila saling berhadapan, di tengah mereka duduk sesosok pemuda, dengan
pakaian mirip kimono Jepang, berwarna putih cerah, rambutnya panjang dan
lurus berwarna putih perak, mukanya putih tersepuh bedak tebal, dengan bibir
merah seperti menggunakan lipstik. Suasana hening, ‘Itu sesosok putih yang
kulihat di Sawah Gede!’ mataku terbelalak sadar. Aku menggidik ngeri
membayangkan apa yang akan terjadi.
Sejurus kemudian muncul dari celah tanaman padi yang setinggi
pinggang itu, sesosok gagah dengan pakaian serba hitam, mirip pakaian Silat,
dengan ikat kepada hitam menutupi dahi, dan tongkat emas seperti milik Sun Go
Khong dari cerita Kera Sakti serta merta menyerang sesosok putih itu, dan
seketika terjadilah perkelahian sengit antara keduanya.
Ke enam orang tadi bangkit dari duduk mereka dan berdiri siaga,
masing-masing mewaspadai yang lainnya. Aku dari ambang pintu kamar itu hanya
bisa melihat, sambil mengasumsikan bahwa 3 orang yang di sebelah kiri adalah
murid si sosok putih itu, karena penampilan mereka lebih berantakan dibanding 3
orang lainnya. Dan yang sebelah kananku adalah murid dari si sosok hitam tadi.
Pergulatan keduanya semakin sengit, percikan api dan kepulan asap
berwarna putih keunguan menyeruak tidak biasa, samar-samar terdengar jeritan
seorang nenek yang kesakitan, disusul lenguhan pria dewasa dengan suara berat,
api berkobar, tertutup asap tebal. Asap tebal menghilang dilalap api, yang lalu
tertutupi asap lagi, terus beitu, berulang-ulang. Tubuh keduanya sesekali
terlihat dari kilasan dan pergantian serangan dua elemen itu, keduanya saling
serang, saling berteriak, saling hantam dengan serangan mematikan. Lalu salah
seorang murid dari kubu sebelah kiri melompat masuk ke arena pergulatan itu,
membuat asap ungu doninam menyelimuti tiga tubuh itu, Saat api hampir padam,
dari kubu kanan seseorang berteriak. “Ayo bantu, Guru dan Ki Suna tengah berada
di ambang kematian, raga mereka sudah selayaknya mayat yang tak bisa menahan
sedikit sentuhan, bagi keduanya kini sedikit pukulan di jasad akan berdampak
sangat hebat dan menyakitkan, serang!!!” yang lalu ketiga murid lelaki
berpakaian hitap itu menyeruak masuk, disusul dua orang sisa dari kubu kiri.
Baku hantam antar kubu tidak terelakan, suara rahang retak dan
gemeletak gigi terdengar keras, teriakan kesakitan saling bersusulan, lantunan
mantra dan zikir saling bersautan, asap dan api berusaha saling mendominasi, mengaburkan
pandanganku akan apa yang sebenarnya terjadi, hingga sejurus kemudian gumpalan
perkelahian itu membuncah. Enam sosok tubuh menyeruak terpental. Tubuh mereka
mengepulkan asap, bekas terbakar dan memar nampak di hampir sekujur tubuh ke
enam orang itu.
Lalu di tegah arena asap keunguan perlahan memutih, kemudian
memendar menjadi semakin tipis. Di sela-sela asap itu aku bisa melihat sesosok
hitam terduduk menghela nafas kelelahan, kumis hitam tebal di hidungnya
berkedutan, ia duduk bertumpu pada tongkat emas miliknya. Tubuhnya penuh memar,
bekas hangus di beberapa bagian nampak menghitam, matanya tertutup sembari
bibir kerkomat-kamit melantunkan zikir dan doa.
Di sampingnya nampak sesosok putih tergolek kaku, wajahnya
mengkriput tidak seperti di awal tadi, bibirnya masih merah namun layu, baju
putihnya kusut dan sobek di banyak sisi, rambut keperakannya berhamburan tak
menentu, kusut.
Suasana hening, bulan bersinar setengah tertutupi kabut, cahaya temaram
dengan angin malam yang sayup-sayup menggelitik kulitku yang ternyata sudah
basah oleh keringat dingin, punggungku basah, dan keringat dingin mengalir
menyusuri pipi ke daguku lalu kemudian terjatuh. Aku sama-sekali tak kuasa
berbuat apa-apa, bahkan untuk menelan ludah pun aku tak berani, tubuhku kaku
ketakutan semenjak tadi.
Tiba-tiba dari samping kamar tempatku itu muncul sebuah buku kuno,
tebalnya mungkin beberapa ratus halaman, dengan kertas tebal dan sampul yang
terbuat dari kulit berwarna kecoklatan, terbang dikelilingi awan tipis berwarna
abu kehitaman. Buku itu terbuka, melayang mendekati si sosok putih, yang
seketika dengan kekuatan entah dari mana bangkit lalu merangkak berusaha kabur.
Buku itu terus mengejar, sosok putih berteriak histeris, suaranya parau seperti
nenek tua yang menahan sakit luar biasa, lengkingan tangisnya memekakkan
telinga, suaranya berubah menyerupai keledai yang kesakitan, lalu menjadi suara
kakek yang uzur, saut menyaut bergantian. Hingga beberapa saat usahanya untuk
kabur terhenti, ia terlentang menahan sakit, sambil berteriak histeris penuh
derita.
Buku itu melayang perlahan di atas si sosok putih itu, perlahan
namun pasti aku bisa melihat sesosok transparan dari tubuh itu tersedot ke
dalam buku, dengan sangat perlahan yang membuat tubuh yang tertarik itu
kelonjotan sambil berteriak lebih keras, lebih histeris dan terdengar sangat
menyakitkan, bagaikan menahan sakit yang teramat dahsyat.
“Itu adalah siksaan tahap 1, tahapan siksa ragawi” tiba-tiba di
kepalaku muncul sebuah suara yang aku kenali itu adalah suara Kiai. Aku terjerembab
jatuh karena kaget, “Lihatlah dengan seksama, dia akan menjalani 2 tahap
siksaan setelah itu.” lanjut suara itu.
Tiba-tiba di kepalaku muncul kilatan seperti klip-klip kehidupan di
sosok putih yang ternyata adalah Ki Suna itu, aku melihat kehidupan masa
kecilnya, dia berambut hitam panjang sebahu, dengan pipi kembung sedang dipeluk
oleh ayahnya. Anak kecil itu berteriak kesakitan, namun ayahnya tetap menahan dengan
memeluk. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi sepertinya itu adalah bentuk
persembahan ayahnya untuk sesosok makhluk sembahannya, ‘Gila, dia mengorbankan
anaknya sendiri!’ pikirku dalam hati.
Kelebatan itu berubah kian berganti, menampilkan tahapan-tahapan
pemujaan dan persembahan yang dilakukan Ki Suna itu hingga bisa menguasai ilmu
hitam.
Aku tidak ingat apa lagi yang selanjutnya dikatakan suara dalam
kepalaku, yang kuingat adalah sosok Ki Suna yang kini raganya sudah tidak
karuan itu tersedot ke dalam buku dan mengisi salah satu bingkai foto yang ada
di halaman buku yang terbuka itu, tersegel disana penampakan terkahirnya yang
sangat mengerikan.
Kemudian buku tertutup dan ‘buff’, buku itu hilang seketika, begitu
juga dengan semua kelebatan dan suasana tak karuan itu, memudar lalu kemudian
hilang. Aku tidak ingat apa yang selanjutnya terjadi hingga sesosok sepuh yang
ku hormati itu membangunkanku. “Gugah, Jang!” katanya seraya mengusap keningku
yang basah oleh keringat dingin. ‘rupanya hanya mimpi, fiuhh’ batinku dalam
hati ketika itu.
Bertahun-tahun kemudian, baru aku tahu bahwa itu bukan mimpi, dan
semua yang aku alami di pesantren sihir itu adalah kenyataan. Jadi ternyata, sebenarnya
aku terkena sihir, kemudian dibawa ke alam gaib, yang ternyata adalah masa lalu
dari pesantren itu. Kau tahu apa yang mengagetkan? Adalah bahwa ternyata si
lelaki paruh baya berkostum silat itu adalah Pak Kiai, dan Ki Suna itu adalah
adik kandungnya!
by: Fathulwadi
2/9/18
